Sumbangsih Soeharto Untuk Sumatera Barat
Wafatnya Soeharto pada hari Minggu, 27 Januari 2008, mengejutkan banyak pihak. Tidak terkecuali bagi masyarakat Padang dan Sumatera Barat. Meski sebenarnya, jika menilik kondisi kesehatan pak Harto, yang naik turun pada saat dirawat, kita tidak perlu terkejut jika akhirnya beliau wafat.
Berbagai komentar sempat terlontar mulai beliau dirawat. Ada yang mengomeli, menuntut dilangsungkannya penegakan hukum terhadap kesalahan-kesalahannya, hingga saat beliau meninggal ada yang bersuka cita dengan kematiannya.
Blog ini tidak akan memperkeruh suasana dengan caci maki dan hujatan serta hal-hal buruk. Kami akan menuliskan sumbangsih pak Harto terhadap masyarakat Sumatera Barat (dan Padang).
Dari sekian banyak jasa dan sumbangsih pak Harto, yang bisa kami tulis di sini antara lain:
1. Pembangunan jalan Inpres hingga ke pelosok desa.
2. Pembangunan irigasi dan penyediaan bibit dan pupuk yang murah (dan berkualitas).
3. Sekolah Inpres didirikan di daerah-daerah yang membutuhkan.
4. Pemberian beasiswa Supersemar.
5. Pendirian masjid dan sekolah-sekolah agama.
6. Banyaknya putra daerah Sumatera Barat yang diangkat menjadi menteri dalam kabinet-kabinet yang dibentuk beliau.
7. Pembangunan dana renovasi gedung Universitas Andalas.
Jadi, kita tidak perlu repot-repot mencari dan mengurus kesalahan-kesalahan pak Harto. Hendaknya kita lebih fokus kepada kebaikan dan manfaat yang beliau berikan dan punya manfaat kepada masyarakat Sumatera Barat (dan Padang). Kesalahan beliau, biarlah beliau tanggung di alam barzakh sana.
Selamat jalan Pak Soeharto, jasa dan kebaikanmu akan selalu kami kenang.

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
asril
kalian senua yang pro tentulah iya nya, coba kami yang dari dulu tertindas, makan susah.
February 3rd, 2008 at 10:28
Amir Kayun
Sumbangan material pak harto memang banyak dan bahkan sangat banyak untuk sumatera barat, sampai-sampai bikin iri daerah lain yang lebih memiliki sumbardaya alam seperti riau, aceh, kaltim, papua. Namun itu pulalah yang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan di ranahminang. Selama kepemimpinan soeharto paham meterialisme sengat pesat perkembangannya, hal ini menyebabkan hilangnya nilai-nilai yang berbau prestasi, pengabdian dan azaz manfaat untuk masyarakat. Eksekusi terakhir soharto dalam menghacurkan nilai-nilai luhur minangkabau adalah UU tentang pemerintahan daerah yang menghilangkan nagari sebagai basis pemerintahan otonomi yang dimiliki minangkabau di masa lalu. Di nagari inilah sebenarnya kekuatan utama adat minangkabau yang dimasa lalu mampu manampakkan keunggulannya dibanding budaya daerah lain. Saat ini walaupun sudah kembali ke nagari, tetapi sendi-sendi budaya minang sebagai penopangnya sudah hilang dan dominannya budaya materialisme menimbulkan permasalahan baru, terutama dalam tata kelola dan proses rekruitmen kepemimpinan di nagari.
August 30th, 2008 at 20:50