← Kembali ke halaman depan

Ketika Pak Jabat Jadi Pejabat Teras

Doktorandus Jabat Akhir, itulah namanya. Ia berjalan gontai dan santai sekali. Tidak terlihat pancaran semangat di wajahnya. Bahkan sekadar menyebar senyum kepada sesama PNS di lingkungan kerjanya pun, ia tak sempat. Ia tampak lesu dan berjalan dengan kepala menunduk. Hampir sepuluh tahun ia menduduki jabatan eselon II. Karena itu ia lebih sering dipanggil Pak Kadis (kepala dinas) oleh rekan-rekannya. Namun, masa keemasannya sudah berakhir. Atasan tidak lagi memercayainya sebagai kepala. Ia kini menjadi staf ahli. Tidak jelas ahli di bidang apa, dan staf ahli siapa. Yang jelas sejak berhenti sebagai kepala dinas, sebutan staf ahli melekat pada dirinya.

Selain menjadi staf ahli, Jabat Akhir kini juga menjadi pejabat teras. Setiap hari ia harus menandatangani absen di Badan Kepega­waian Daerah, setelah itu ia lebih banyak duduk atau berdiri di teras. Sebagai staf ahli dan pejabat teras, ternyata bukan kursi dan meja saja yang tidak tersedia untuknya, ruang lepas sekalipun tidak ada. Karena itulah kalau belum pulang, ia menghabiskan waktunya di teras. Ketika masih menjabat sebagai Pak Kadis, mulutnya selalu berbusa untuk menegur kawan-kawannya, agar disiplin, masuk tepat waktu, kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Sekalipun pekerjaan kecil yang dilakukan lebih berarti daripada menghabiskan waktu untuk mengo­brol atau duduk-duduk tanpa tujuan. Tidak ada yang menduga peristiwa yang akan terjadi, termasuk pada diri sendiri. Sebagai Pak Kadis, Drs. Jabat Akhir memiliki sopir pribadi, sekretaris pribadi, mobil dinas, minyak dinas, bahkan di luar jam dinas, semua fasilitas dinas tersebut dimanfaatkannya bersama keluarganya. Memang enak menjadi Pak Kadis, tetapi ia lupa kalau roda tetap berputar. Sopir tak ada lagi, mobil dinas sudah diambil, minyak dinas tak pernah lagi dinikmati, rapat dari satu hotel ke hotel lain pun tidak ada lagi.

Pada awalnya Pak Jabat Akhir masih masuk kerja seperti biasa. Namun kurang dari sebulan, ia mulai mengurangi kehadirannya di teras. Jabatan staf ahlinya kian hilang. Bahkan keahliannya dalam membuat telaah staf, mencari kuitansi baru hilang secara perla­han. Pada bulan-bulan berikutnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukannya. Pa­kaian dinas kebanggaannya sudah lama tidak dipakainya. Setelah sempat menjadi Pak Kadis , ia merasa bukan lagi PNS biasa. Karena itulah ketika jabatan itu diambil kembali, ia merasa waktunya sudah habis. Karirnya sebagai PNS tidak ada lagi. Karena itulah ia tidak mau lagi bekerja sebagai PNS, seperti awal-awal ia menjadi PNS. Bahkan semangat hidupnya ikut lenyap entah ke mana. Mulutnya yang berbusa-busa saat mengingatkan bawahannya sudah dilupakan. Sejak otonomi daerah diberlakukan, tidak sedikit Pak Kadis yang menjadi staf ahli atau pejabat teras. Kadang Pak Kadis bingung sendiri dengan dirinya. Ia tidak tahu kesalahan yang diperbuatn­ya. Bahkan setelah berhari-hari menjadi staf ahli, ia masih belum mengerti mengapa diberhentikan tanpa aba-aba sebelumnya. Sekali­pun dalam aturan PNS ia mengetahui, kalau akan berhenti maka ada teguran lisan beberapa kali, ada teguran tertulis. Namun kali ini, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba badai menghantam. Itulah yang membuatnya tidak pernah mengerti dengan perjalanan karirnya sejak otonomi daerah.

Drs. Jabat Akhir kini hanya merenung sendiri. Ia tidak mungkin menggugat ke PTUN. Tidak ada gunanya. Kalaupun ia menang di PTUN , ia tetap saja tidak akan pernah duduk kembali di kursi empuk yang sepuluh tahun didudukinya. Bukan karena pendidikannya yang kurang, bukan karena pangkat dan golongannya yang rendah, bukan karena ia tidak loyal terhadap pekerjaan, bukan pula karena ia tidak disiplin, tetapi disebabkan oleh ketidakmampuannya untuk menanyakan langsung kepada kepala daerah yang sudah menjadikannya sebagai staf ahli dan pejabat yang bermain di teras. Kalau saja ia mau, ia bisa langsung menan­yakan kepada atasannya, mengapa ia dijadikan staf ahli, tetapi percuma. Tidak ada gunanya, sia-sia belaka. Drs. Jabat Akhir kini punya banyak teman. Beberapa teman seper­juangannya juga dijadikan staf ahli. Ia mulai tersenyum, ternyata ia tidak sendiri. Masih banyak staf ahli lain dan ada pejabat teras lain, yang tidak pernah mampu menjawab pertanyaan sendiri, mereka itu staf ahli siapa dan pejabat teras di mana? o Waitlem

*dicomot tanpa ijin dari sini*

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)