You're here: My City Blogging » Padang » Article: Padang Dalam De Javu
<!–[if !mso]>
Mungkin aku akan selamanya mengenal Padang sebagai kota yang romantis. Bukan hanya karena di sinilah aku menemukan belahan jiwaku, tapi juga karena banyak kenangan tersimpan, dan abadi selamanya dalam slide memori.
Setiap kali aku pergi ke satu tempat, menyusuri jalan-jalan yang dilalui, selalu saja aku mengalami de javu. Ya, aku sering merasa pernah berada di tempat itu atau ini, bertahun-tahun sebelumnya, dengan orang-orang yang entah siapa. Setiap kali aku duduk di sebuah halte, aku sering melihat bayanganku, diriku yang lain, yang lebih muda juga duduk di halte itu, menunggu angkot, atau seseorang yang entah siapa. Membaca buku, entah buku apa, pengarang dari mana, bersama seseorang dengan wajah yang tak kuingat. Begitu banyak kenangan terjejak di setiap jengkal jalan. Begitu banyak ingatan yang tersimpan.
Aku masih ingat, dulu aku suka nongkrong bersama teman-teman di seputaran Damar. Dulu di sana ada café Babe. Kita sering nongkrong sore-sore sampe magrib. Membincangkan apa saja, mulai dari politik, sosial budaya, pendidikan, isu-isu terhangat dunia sampai cerita omong kosong yang tak penting untuk diingat. Babe, sang pemilik café punya minuman favorit kami, teh es. Minuman pas untuk mahasiswa yang hobi nongkrong dengan kantong cekak.
Babe itu representasi generasi tua yang mau belajar untuk mengimbangi yang muda. Babe sering terlibat dalam percakapan kami, ikut mengomentari isu-isu hangat dan ikut menyimpan rahasia percintaan yng mungkin terdengar. Seperti si A selingkuh dengan si B, atau teman kami si C, ternyata diam-diam jatuh cinta dengan kekasih teman nongkrongnya sendiri. Babe juga saksi pertengkaran yang timbul di antara dua sahabat kami yang sama-sama mencintai satu perempuan. Sayang waktu itu Yovie and The Nuno belum ada, kalau tidak pasti Babe akan dengan fasihnya menyanyikan ‘Dia Milikku’, untuk menggambarkan pertengkaran itu.
Dulu, trotoar di sepanjang jalan utama terpendek di Padang itu, Damar (Cuma sekitar 100-an meter) masih nyaman dilalui. Tak ada gerobak kaki lima di sana, kecuali satu, gerobak pisang goreng di depan Gramedia. Setiap sore, rame abg dan mahasiswa nongkrong di sepanjang Damar. Hanya sekadar nongkrong sekalian lihat-lihat kalau ada makhluk keren lewat. Anak-anak AIM, Amik Jayanusa, STMIK, Universitas Baiturahmah, Modern College, Widyaloka sampai Bung Hatta rajin menyambangi trotoar Damar. Biasanya mereka duduk-duduk dari simpang Gedung Haluan, Gramedia, café Babe, hingga simpang AIM. Menjelang sore tempat itu makin rame. Biasanya kalau sudah pukul setengah enam sore, keramaian itu berpindah ke tepi laut yang jaraknya Cuma sekitar 100 meter dari Damar. Di sana selalu ada racing mobil. Ajang gaya en pamer mobil anak-anak gedungan. Jalan sepanjang 200 meter sengaja dikosongkan untuk racing-racingan itu. Dan aku, bersama gankku, kerap nonton racing itu dengan hati senang.
Sekarang semua itu tak ada lagi. Damar sudah almarhum jadi tempat nongkrong. Setiap sore yang ada hanya pedagang kaki lima menyesaki jalan. Sulitnya mencari pekerjaan, memaksa banyak orang merebut tempat nongkrong remaja untuk dijadikan lahan mencari nafkah.
Kadang-kadang aku masih rindu ke Damar, sekadar untuk merasakan sensasi kenangan sepuluh tahun lalu. Tapi, ah, setiap kali hidungku mencoba menghirup wangi kenangan itu, selalu saja asap penggorengan pedagang kaki lima dan knalpot mobil menganggu.
“Jangan cari kenangan pada tempat, sebab kau cuma bersua ingat. Carilah ia pada rasa, di sana kau kan bertemu jiwa,” ucap hatiku.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.