You're here: My City Blogging » Palembang » Article: 8 Suster Tewas Dalam Sebuah Kecelakaan Tragis

8 Suster Tewas Dalam Sebuah Kecelakaan Tragis

Amril Taufik Gobel — February 19, 2009 / 12:41 pm

Kecelakaan tragis dan mengenaskan terjadi di Jl Lintas Sumatera, tepatnya di Desa Beringin, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan-antara Kota Prabumulih menuju Baturaja-sekitar pukul 05.30 WIB, kemarin (18/2). Sebagaimana diberitakan oleh Harian Sumatera Ekspress online, Sembilan dari 10 penumpang mobil Kijang kapsul dengan nomor polisi T 1756 DC, tewas.

Mobil tersebut terjungkal dari atas jembatan dan nyemplung ke Sungai Lubai.Delapan dari sembilan korban tewas merupakan suster di Rumah Sakit Roma Kristen (RS RK) Charitas Palembang. Masing-masing, Suster Yuse, Aurelia, Germanda, Mariana, Venita, Benedikta, Evila, dan Lorensia. Satu korban lainnya adalah sopir mobil bernama Misyanto.Informasi yang dihimpun Sumatera Ekspres, dalam kejadian tersebut, tujuh korban tewas seketika di tempat kejadian perkara (TKP). Satu orang meninggal dalam perjalanan menuju RSUD Prabumulih dan satu lagi tewas setelah sempat mendapat pertolongan tim medis RS dengan direktur utama dr M Ali Indra Hanafiah MARS itu.

Tinggal satu penumpang, Suster Silvestra yang sekarang ini kondisinya kritis. Tadinya, ia dirawat di UGD RSUD Prabumulih. Namun, sekitar pukul 12.00 WIB, kemarin, dirujuk ke RS RK Charitas Palembang bersama sembilan korban tewas lainnya. Para suster yang tewas tercatat sebagai penghuni asrama RS RK Charitas Palembang. Saat meninggal, rata-rata mulut mereka berbusa akibat kehabisan oksigen saat terendam air. Bagian kepala korban juga menderita luka benturan. Bagaimana kejadian sebenarnya?

Informasinya, rombongan suster RS RK Charitas ini hendak melayat keluarga Suster Benedikta yang dikabarkan meninggal dunia di Desa Banuayu, Belitang OKU Timur, Sumatera Selatan. Mereka berangkat dari Palembang sekitar pukul 04.00 WIB. Nah ketika melintas di TKP, mobil warna merah maron yang dikemudikan Misyanto, warga Lebong Siarang, Palembang itu keluar jalur ke kiri dan terjun bebas ke sungai. Sebelum tercebur, mobil tersebut sempat menghantam dinding tebing di sisi sungai dengan keras,” Brak”.

“Kami dengar suara hantamannya keras sekali. Seperti suara mobil tumburan (tabrakan, red),” kata Jupri (42), salah seorang saksi mata yang rumahnya berada di bantaran Sungai Lubai. Dikatakan, mobil yang dikendarai para korban mengarah ke pagar pembatas jalan dengan dinding sungai. Namun, pagar tersebut sudah rusak dan hanya tinggal sebagian. Akibatnya, saat keluar jalur tidak ada penahan, sehingga langsung melompat bebas. “Waktu menghantam tanah, suaranya keras. Terdengar juga jeritan,” terangnya. Kuat dugaan, kata Jupri, ketika menghempas tanah dengan kuat, mobil tersebut mental lagi dalam posisi terbalik hingga masuk ke dalam sungai. “Waktu dalam sungai posisi mobil sudah dalam keadaan terbalik. Ban mobilnya berada di atas, atapnya di bawah dan mobil tenggelam,” jelasnya. Tak pelak, kecelakaan maut itu mendapat perhatian warga sekitar. Apalagi, saat kejadian masih terbilang pagi sehingga warga belum beraktivitas di kebun. “Banyak warga yang langsung turun ke sungai memberikan bantuan,” kata Jupri lagi. Hanya saja, pertolongan warga tak berjalan mulus. Mereka harus memutar posisi mobil yang sudah terbalik. “Kami coba nyelem ke sungai, nak buka pintu mobil, tapi tidak bisa. Pintu mobilnyo macet,” tutur Jupri.

Rozi, saksi mata lainnya menambahkan, warga lantas mengambil inisiatif memecahkan kaca mobil. Setelah itu, korban satu per satu dievakuasi dan dibawa naik ke tepi sungai. “Sikok mayat ado wong empat, wong limo ngangkatnyo ke pinggir sungai. Sudah terangkat galo, baru diangkat lagi rame-rame ke jalan itam (pinggir jalan raya, red). Sudah itu, yang meninggal langsung dibawa ke Puskesmas Lubai,” terang Rozi dalam logat bahasa Palembang.

Saat dievakuasi, kata dia, ada tiga korban yang masih hidup. Itu tadi, dua dibawa ke RSUD Prabumulih dan satu lagi meninggal dalam perjalanan menuju Puskesmas Lubai.

Seluruh korban tewas dan selamat langsung dibawa menggunakan 10 mobil ambulans milik RSUD Prabumulih dan RS RK Charitas. Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab kecelakaan tersebut. Di lapangan, ada dua versi yang berkembang. Mungkin akibat sopir mengantuk, ada juga yang memperkirakan sopir tidak hapal trak jalan yang menikung dan menaiki jembatan beruas sempit. Kasatlantas Polres Muara Enim AKP Ahmad Parduman belum memberikan keterangan jelas penyebab kecelakaan, apakah kelalaian sopir atau faktor alam. “Kita belum bisa pastikan penyebab kejadian. Tadi pagi ‘kan cuacanya hujan. Bisa jadi karena faktor cuaca. Yang pasti, mobil keluar jalur dan terjun ke sungai. Korban datang dari Palembang hendak ke Belitang. Kata Romo mereka tadi mau melayat keluarga salah satu suster yang meninggal,” terang Ahmad. Polisi, lanjut dia, masih harus melakukan pemeriksaan dan meminta keterangan dari sejumlah saksi di tempat kejadian. “Untuk memastikan penyebabnya, kita mau periksa para saksi mata dulu. Siapa tahu ada yang mengetahui pasti kejadian ini,” tukasnya. Sementara itu, Suster Kepala RS RK Charitas, Melani, menjelaskan, semua korban (kecuali sopir) adalah suster atau perawat di RS RK Charitas. “Semuanya suster kita. Mereka hendak ke Belitang, OKU Timur untuk melayat keluarga salah satu suster yang meninggal dunia. Mereka berangkat sekitar pukul empat subuh (04.00 WIB, red),” terang Melani ditemui di RSUD Prabumulih.

Saat itu, sejumlah anggota Dewan Pastoral Stasi Santa Maria Prabumulih cabang Paroki Santo Yosef, Tanjung Enim, Muara Enim dengan ketua Paulus Sutrisno Roggen terlihat berada RSUD Prabumulih. Menurut Paulus, dirinya atas nama seluruh umat Katolik di Prabumulih turut berbelasungkawa atas insiden ini. “Kita tadi sebetulnya mau doa-doa dulu, sudah ada beberapa anggota kita yang kumpul. Tapi keburu (jenazah) dibawa ke Palembang untuk disemayamkan di rumah duka RS RK Charitas,” tukasnya.

Terima Santunan Rp25 Juta

Di sisi lain, kecelakaan maut yang merenggut 9 korban jiwa ini mendapat perhatian serius dari pihak Jasa Rahardja. Bahkan, para keluarga korban tewas dijanjikan mendapat santunan Rp25 juta per orang. Staf Jasa Rahardja Muara Enim Cabang Lahat, Roi Silalahi, menegaskan bahwa pembayaran santuan paling lambat tujuh hari setelah kecelakaan. “Pembayaran akan dilakukan secepatnya. Klaim asuransi akan kita bayarkan kepada ahli warisnya. Kalau ternyata korban tidak memiliki ahli waris lagi, hanya akan mendapat bantuan biaya penguburan yang besarnya maksimal Rp2 juta,” pungkasnya.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.

  1. Henry Wijaya

    Turut berduka cita atas meninggalnya 8 suster charitas..
    Terlebih untuk Sr. Benedicta Fch, yang sedang berkarya di paroki saya.
    Semoga beliau-beliau ini diterima di sisi Bapa di surga.

    February 22nd, 2009 at 4:07 pm

  2. Jan Mama 3N

    Saya mengucapkan dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya turut berduka cita atas meninggalnya 8 suster saat kecelakaan di Palembang,apalagi untuk Sr,Laurentina, yang dulu sudah aku anggap adikq sendiri, karena kami satu sekolahan waktu SMA, semua teman teman dan keluarga mendukung niatnya untuk masuk Biarawati, mungkin ini sudah suratan dari Yang Maha Esa. Kita hanya bisa menerima apa yang sudah direncanakanNya. Yang penting kita jangan terlalu larut dalam kesedihan, agar perjalanan suster - suster kita yang telah pergi tidak terhambat menuju ke rumah Bapa.

    April 30th, 2009 at 3:10 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Citilink Garuda

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT