You're here: My City Blogging » Palu » Article: Dero-Modero gerakan penuh persahabatan-kekerabatan-kedamaian
Dero atau yang sering di sebut juga Modero merupakan sebuah tarian yang membuat rasa persahabatan, kekerabatan dan kedamaian semakin lekat. Saya pribadi sebagai individu asli dari sumber tarian tersebut sampai saat ini hanya mengerti struktur dan arti dari tarian ini yakni persahabatan-kekerabatan-kedamaian, kesimpulan itu saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar dari pembicaraan orang disekitar saya, karena referensi mengenai budaya tersebut masih minim bahkan sangat jarang saya temukan, tetapi saya yakin di dalam tarian tersebut ada sebuah arti yang sangat sakral bagi orang-orang di tempat asal budaya Dero/Modero. sungguh sebuah ironi bagi saya pribadi karena tidak paham lebih dalam mengenai budaya sendiri yang notabene hidup dan besar di lingkaran itu.
Apakah ini sebuah tanda bahwa “anak muda” sekarang lupa akan budayanya sendiri??… jika pertanyaan itu di ajukan kepada saya, tentunya saya akan menjawab dengan lantang “TIDAK”… banyak alasan [yang tentunya masuk akal] untuk menyanggah tuduhan seperti itu. lupa dengan budaya sendiri tidak bisa di ukur dari sisi seperti itu, asalkan kita sebagai asli daerah bisa mengerti setidaknya arti dari sebuah budaya walaupun definisinya tidak harus sedetail seperti dimana budaya tersebut muncul pertama kalinya, dan yang terpenting kita bisa menerjamahkan budaya tersebut berdasarkan pola kita dan sesuai dengan makna sesungguhnya yang terkandung didalamnya.
Count: Dero/Modero adalah tarian dengan formasi melingkar yang diikuti ratusan orang, dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah [Sulteng], sebagai tarian perdamaian. peserta tari tersebut juga saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meski sebelumnya tidak saling mengenal. Dero biasanya dilakukan pada malam hari, seusai warga menghadiri acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Bahkan hingga menjelang matahari terbit, Dero masih tetap berlanjut. tarian itu biasanya diiringi musik organ tunggal [sekarang, - dulunya memakai gong kecil] dengan dua penyanyi. Penyanyinya umumnya juga melantunkan lagu berbahasa daerah atau lagu populer lainnya dengan iringan irama agak cepat. tempo lagu yang agak cepat membuat penari Dero lebih bersemangat, bergoyang sambil berputar searah jarum jam atau sebaliknya. Dalam situasi normal, dero dipentaskan malam hari, usai acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Sering pula dero digelar sampai pagi dengan penuh suka cita. lupa waktu tak masalah karena begitulah sebagian cara masyarakat Poso-Morowali menikmati perdamaian. Dero menjadi arena persahabatan sekaligus perdamaian. lihat saja, dalam Dero, setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran. dan langsung menggandeng tangan orang di sebelahnya. tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamanya. Tari Dero ini juga disebut dengan Tari Pontanu, jenis tari pergaulan di mana para penonton diajak ikut menari dengan saling bergandengan tangan membentuk lingkaran. tarian asal Poso dan Morowali, Sulawesi Tengah itu selalu dilakukan pada setiap acara-acara pernikahan, pesta panen [Padungku] dan syukuran lainnya di Poso-Morowali. tari Dero itu masih tetap dipertahankan di beberapa kampung di Poso-Morowali hingga kini.
<
p align=”justify”>Dari beberapa potongan referensi di atas kita sudah bisa melihat sebuah arti sesungguhnya dari budaya Tarian Dero/Modero.. sungguh sebuah budaya [bisa dibaca: kebiasaan] yang agung dimana dengan sebuah tarian bisa mempererat tali persahabatan, kekerabatan dan kedamaian walaupun di dalam lingkaran tarian tersebut berbagai ragam dan ras individu yang bergerak membuat sebuah rotasi yang berputar dengan indah. lingkaran yang terbentuk bersamaan dengan tangan bergandeng erat menandakan sebuah kekokohan yang tak ingin lepas dari putaran roda kehidupan yang dijalaninya dan di iringi dengan tawa serta nyanyian sebagai syair dalam mengiringi setiap masalah. dari sebuah tarian ini patutlah kita mengambil sebuah arti yang sangat istimewa untuk kita aplikasikan di dalam kehidupan yang notabene disekitar kita banyak individu yang berlainan sifat dan karakternya untuk mencapai sebuah nilai kehidupan yang hakiki. Kadang kita lupa bahwa kita juga seharusnya berkaca lewat sebuah budaya, karena di dalam sana banyak norma yang sangat pantas untuk kita tiru dengan nilai-nilainya yang sakral.
Masih ingatkah anda dengan tragedi Poso? [maaf saya sedikit mengungkit tragedi tersebut], kejadian yang sangat di sayangkan dan disesali mengapa harus terjadi di antara sebuah daerah yang kaya akan budaya persahabatan-kekerabatan-kedamaian. terlepas dari itu kini semuanya kembali menata untuk bangkit beriringan dengan kata persahabatan-kekerabatan-kedamaian.
Sebuah budaya yang sangat pantas untuk di lestarikan dan tentunya juga beserta makna yang terkandung didalamnya dapat di implementasikan di dalam kehidupan.
Source: www.fritz.web.id
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
newraii
apa arti tari menurut para ahli di indonesia???
August 12th, 2008 at 12:47 pm
kota palu
mantap nih artikelnya pak fritz :)
May 23rd, 2009 at 1:37 pm
christian
Pada dasarnya budaya yg ada terbentuk dr kondisi atw keadaan di sekitar qta, keadaan alam mpengaruhi budaya trsbut. mis: Dasi…Dasi adlh suatu budaya tp knapa di daerah tropis org2 jg mggunakan dasi? apa fungsi dasi sebenarnya? awalmula “dasi” itu dr daerah yg brmusim dingin, krn dingin maka leher juga hrs ditutupi dg kain atw sejenisnya utk mghangatkan, utk menahan rasa dingin, maka dasi berfungsi sbg pengikat/pelindung bagian leher dr udara dingin. ..sy rasa indonesis tdk perlu pakai dasi…tdk ada signifikansinya sama sekali….seiring dg prkmbangan zaman, budaya jg mulai berkembang tetapi bukan ke arah positif tetapi sebaliknya. budaya tdk salah,mnurut saya para pelaku budayalah yg menyalah gunakan budaya..tersebut, terkadang memanfaatkan budaya demi kepentingan diri sendiri/kelompok. dlm hal ini sy jg setuju dg pndapat bpk..GBU
June 17th, 2009 at 12:17 pm
christian
setujuuuuuuu……….seiring dg perkmbangan zaman budaya jg brkembang tetapi bukan ke arah positif namun sebaliknya…sgt di syangkan…budaya tdklah salah hanya org2 yg terkadang memanfaatkan budaya untk kepentingan sendiri/kelompok…mari qta mjadi mahkluk yg berbudi luhur…jgn rusak budaya hnya utk kepentingan anda sendiri….sintuwu maroso!
God Bless You All…..
June 17th, 2009 at 12:42 pm
rifka agnestiany
Saya juga pernah merasakan asyiknya mengikuti tarian modero itu di daerah sulawesi langsung dengan penduduk asli disana dan di situ saya juga merasakan tarian modero memang mempererat persahabatan, kekerabatan tanpa mengenal adanya perbedaan !!!
kita harus melestariakan tarian modero itu agar tidak punah dan memperkenalkan budaya tarian modero kepada orang lain yg belum tau tarian modero …
agar tarian modero tidak di akui oleh negara lain , seperti kasus yang sudah ada sekarang !!!
tetap semangat melestariakan kebudayaan bangsa kita sendiri …
October 9th, 2009 at 10:56 am