You're here: My City Blogging » Palu » Article: Disbudpar Lakukan Dokumentasi Megalit
PALU - Keberadaan Megalit di Lore Utara dan Lore Tengah, Kabupaten Poso, menjadi perhatian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulteng. Megalit yang termasuk benda cagar budaya (BCB) yang berharga itu didokumentasikan dengan piranti digital selama tiga hari (20-22 Juni) di kawasan Lembah Napu. Kepada Radar Sulteng kemarin (23/6), Kepala Disbudpar Sulteng Drs Suaib Djafar menuturkan proses digitalisasi dokumensi megalit tersebut dilakukan sebagai upaya pelestarian dan pemeliharaan BCB. Sebab selain dokumentasi, pihaknya juga melakukan pendataan kondisi megalit. “Dasarnya masih cukup baik, tetapi ada beberapa yang telah berlumut di makan usia. Megalit yang seperti itu akan mendapatkan perawatan yang tentunya sesuai spesifikasi perawatan arkeologi. Tidak bisa sembarangan,” ujar Suaib.
Ditemuai di ruang kerjanya, Suaib juga menjelaskan hasil pendokumentasian akan menjadi bahan promosi wisata yang bernilai promotif sekaligus edukatif bagi generasi muda Sulteng. Sebab begitu banyak megalit yang menakjubkan akan dapat diketahui dan dipelajari orang banyak. Sedikitnya ada 11 situs dengan ratusan patung megalitar di lembah Napu hingga Lemba Bada, yang sempat didokumentasikan.
Keberadaan megalit-megalit tersebut, menurut Suaib akan dilestarikan sekaligus dikelola dalam suatu kawasan wisata megalit khusus berkriteria culture, adventure, dan natural (CAN). Sehingga disamping fungsi pelestarian dan pemelirahaannya, fungsi wisata juga didapatkan. Karena itu, Suaib mengaku selain melakukan pendokumentasian pihaknya juga melakukan survei sekaligus pembinaan masyarakat. “Pembentukan kawasan wisata memerlukan pembenahan sarana dan prasarana,” jelasnya.
“Saya sempat berbicara kepada lurah untuk mendiskusikan pembuatan home stay bagi turis yang berkunjung ke kawasan megalit. Tidak perlu lux, yang penting menyesuaikan dengan kearifan lokal setempat,” ungkap Suaib.
Selain pembuatan home stay, pembuatan handicraft atau oleh-oleh khas dari kawasan megalit, menurut Suaib penting dilakukan sejak saat ini. Sebab dengan adanya handicraft khas megalit, tidak hanya menjadi penanda orang yang pernah berkunjung, namun juga memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar kawasan.
“Selama ini masih sebatas komoditas Bali-Napu yang dikenal. Kenapa tidak ada handicraft berupa pernak-pernik khas yang bisa dijadikan oleh-oleh (buah tangan,red). Karena saya melihat ada kerajinan anyaman serta bambu yang dimiliki masyarakat di sana. Kenapa tidak itu yang dikelola,” tandas Suaib.
Dia mengaku menyempatkan diri mengunjungi lokasi pembuatan alat musik bambu di Desa Hangira, Lore Tengah.(uq) [RS]
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
JAMES WALALANGI S.Kel
“BERANI UNTUK BERMIMPI”
tidak hanya sekedar bermimpi… tapi berusaha untuk mewujudkan palu sebagai KOTA TELUK TERINDAH DI DUNIA…
Kota Palu memiliki banyak anak-anak muda yang potensial, kreatif dan energik…yang siap diberdayakan untuk menjaga aset-aset budaya daerah…BERSAMA KAMI PASTI BISA…!!!
September 27th, 2009 at 9:22 pm