You're here: My City Blogging » Semarang » Article: Dianggap Berlebihan, Pensterilan Jalan Pahlawan

Dianggap Berlebihan, Pensterilan Jalan Pahlawan

Amril Taufik Gobel — September 9, 2008 / 1:55 pm

Rencana pensterilan kawasan Jl Pahlawan, khususnya mulai dari videotron hingga Mapolda Jateng dari aktivitas publik, seperti kegiatan nongkrong anak muda, dinilai berlebihan. Seperti dikutip dari Suara Merdeka Online hari ini, perencana kota Ir Widya Wijayanti menyayangkan sebab, side walk di Jl Pahlawan yaitu trotoar, seharusnya dimanfaatkan secara optimal.

“Trotoar di kawasan Jl Pahlawan termasuk ruang publik, siapa pun bisa mengakses,” katanya, Senin (8/9). Pensterilan kawasan itu dari kegiatan yang tidak terkait birokrasi dan pemerintahan dinilai terlalu berlebihan. Sebab, aktivitas malam dimulai setelah jam kantor selesai.

Menurutnya, kegiatan malam di kawasan itu dinilai bagus, karena menandakan kehidupan sebuah kota. Selama tidak mengganggu arus lalu lintas, Widya menganggap sah-sah saja.

“Anak muda nongkrong itu bukan sesuatu yang jelek. Justru itu adalah salah satu cara mereka berkomunikasi. Mereka hanya meminjam ruang kota yang lebih luas. Dan, itu justru yang membuat warga kota jadi lebih sehat,” ujarnya.

Untuk menghindari hal-hal negatif, bisa disiasati dengan desain kawasan seperti memberi lampu besar yang terang agar orang tidak punya kesempatan untuk melakukan hal-hal negatif.

Seharusnya ditinjau ulang apakah kantor Gubernur itu ruang publik atau tidak, karena menurut Widya, trotoar hingga halaman parkir kantor Gubernur masih merupakan ruang publik.

“Kantor Gubernur itu bukan rumah Gubernur. Harus dibedakan,” katanya. Dia mengingatkan, pemerintah harus berhati-hati terhadap rencana ini, karena kantor Gubernur dan kawasan di sekitarnya sudah masuk sistem ruang terbuka kota. Jalan, trotoar, bahkan gedung Gubernuran dibangun dengan APBD yang merupakan uang rakyat.

“Seharusnya masyarakat bisa ikut menikmati, asal diatur,” imbuhnya. Jika sebagian PKL yang masih ada di trotoar sisi barat hendak dipindah di sebelah timur, menurutnya, boleh-boleh saja, asal masih dalam kendali. “Yang penting setelah berjualan harus dibersihkan. Jangan sampai ada yang tersisa di sana,” kata Widya.

Terkait dengan penataan reklame, dia mengatakan memang sudah seharusnya kawasan itu bersih dari reklame. “Tidak cuma kawasan itu saja yang diatur, tapi juga daerah lain yang sudah terlalu penuh dengan reklame seperti Simpanglima,” tuturnya.

Tindaklanjuti

Sementara itu, Pemkot siap menindaklanjuti permintaan Gubernur Bibit Waluyo untuk membersihkan kawasan Jl Pahlawan dan sekitar gubernuran dari PKL. Di satu sisi, Pemkot akan melakukan sosialisasi kepada para pedagang sebelum penertiban dilakukan. Di sisi lain, akan disiapkan tempat relokasi untuk menampung pedagang yang semula berjualan di ruas jalan tersebut.

Hal itu disampaikan Wali Kota Sukawi Sutarip seusai rapat paripurna DPRD Kota Semarang, Senin. Dia mengatakan, apabila PKL jadi direlokasi, maka dilaksanakan bertahap. Namun, hingga kini Pemkot belum memiliki gambaran lokasi pemindahan PKL Jl Pahlawan.

’’Kalau mau seketika, Pemkot bisa saja melakukan. Tapi, saya kira Pak Gubernur tidak mau yang semacam itu. Penertiban akan dilakukan dengan tahapan mulai dari sosialisasi untuk memberikan penjelasan kepada pedagang,’’ kata Sukawi.

Dia menjelaskan, pembenahan Jl Pahlawan merupakan upaya untuk menjadikan lingkungan kota lebih baik. Ditanya soal kemungkinan mendapat penentangan dari PKL dan kebijakan yang tidak populis di kalangan masyarakat kecil, ia siap menghadapi. Sukawi optimistis persoalan itu bisa terselesaikan.

’’Kami sifatnya kan horizontal-vertikal. Jadi, memimpin kota ini ada seninya. Bagaimana menghadapi PKL, bagaimana menghadapi instruksi Gubernur. Tidak mungkin Wali Kota membantah Gubernur,’’ tandas Sukawi.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang Ayi Yudi Mardiana menyatakan, pihaknya menyiapkan pembuatan taman pada ruas Jl Pahlawan setelah lokasi itu dibersihkan dari PKL. Anggaran untuk pembuatan taman diperkirakan sebesar Rp 100 juta, diajukan pada APBD Perubahan.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.

  1. anas hidayat

    100 persen nggak stuju pkl digusur. emangnya bibit raja apa,habis kuasa main gusur segala. Pasti waktu muda nggak pernah nongkrong di Pahlawan.

    October 5th, 2008 at 5:03 am

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • harry octaviatna AD — Jakarta, 02 dec 2008 Kepada yth, Bapak/Ibu produser / sutradara di jakarta Dengan hormat, Saya yang tertulis dibawah ini atas nama biodata ; - Nama ...
  • yudha — alloo edelweis band,pkbrnya? msh igt yudha EO edelweiss Bpp,wah tmbh sukses y kalian.. gw jd ikt seneng ne.. berto,dicky n avid kangen ...
  • Andri — dear Bp Amril Salam Terminix International Indonesia Kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang Anti Rayap untuk proyek proyek pembangunan, bila ada ...
  • Nurjanah — buat para siswa yang ingin lanjut ke PTN negeri yang ckup terkenal, kayaknya g' perlu sampe mrubah nilai rapor segala..... terima ...
  • eshape — He...he...he... kalau dipikir lucu juga ya. Aku sudah lama pingin main ke rumah pak Ugi dan pak Yani [beruang coklat.com], gak ...
  • nizar — Bung Aryasheva, klo lho nggak ngerti tupoksi suatu instansi nggak usah deh banyak komentar. BPOM itu tugasnya mengawasi Produk2 ...
  • dwi — memang enak klu berduaan apalagi ama pcr,coz bisa mengerjakan pr kehidupan yg tertunda,hehehehe.Kita harus lakukan pekerjaan itu sebelum kita berpisah ...
  • eshape — @Febri Bener mas, namanya Cikarang baru Golf. Silahkan diambil fotonya. Mumpung gratis. Salam
  • Febri — Ya ini sih namanya Cikarang Baru Golf. Tempat orang "sekedar" olah raga (Minggu pagi). Jadinya tempat belanja. Ibarat malamnya nongkrong ...
  • rara — eh mantap! Go go TPC :) Keep on blogging! Hehehehe