You're here: My City Blogging » Surabaya » Article: Kesenian Budaya Surabaya
Miss Universe Riyo Mori datang ke Surabaya kemarin bersama Putri Raemawasti, yang baru beberapa hari yang lalu terpilih sebagai Putri Indonesia 2007. Kedatangan mereka ini disambut oleh tarian kesenian tradisional Reog. Jika ditelusuri, tarian Reog berasal dari Ponorogo, bukan dari Surabaya. Tapi entah mengapa Reog sering dijadikan tarian penyambutan di kota ini.
Tarian kesenian tradisional Reog Ponorogo biasanya mengundang tamu istimewa untuk duduk di atas kepala Singa Barong, penari dengan topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Topeng ini sebenarnya cukup menakutkan bagi anak kecil karena berwajah singa yang seram. Hal inilah yang mungkin membuat Riyo berpikir sejenak ketika mendapat tawaran untuk naik di atas kepala Singa Barong.
Tari tradisional kota Surabaya sesungguhnya adalah Tari Remo, sebuah tarian selamat datang yang umumnya dipersembahkan untuk tamu istimewa. Apakah mungkin kesenian budaya kota ini sudah mulai luntur karena kota Surabaya lebih dikenal sebagai kota perdagangan, industri dan bisnis? Untuk mengetahui kebudayaan kota ini, Andapun harus pergi ke gedung Cak Durasim dimana setiap setahun sekali diadakan Festival Cak Durasim(FCD), yakni sebuah festival seni untuk melestarikan budaya Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Selain itu juga ada Festival Seni Surabaya (FSS) yang diadakan setiap satu tahun sekali di bulan juni bertempat di Balai Pemuda dekat dengan kantor Gubernur Jawa Timur.
*Gambar diambil dari Jawa Pos Online
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.
Vania Köberlein
salam kenal! dulu saya sering ke Surabaya lo untuk kursus. Wah surabya ketamuan miss Universe ya! Tapi pasti dia ngga duduk di atas kepala singa barong ya?
August 8th, 2007 at 11:04 pm
Ronald Daniar
Salam kenal juga! Dari foto yang terpasang di koran harian Jawa Pos Riyo Mori duduk di atas kepala singa barong.
August 12th, 2007 at 7:32 pm
ziegrusak
mereka menggunakan reog mungkin karena dipikir sama-sama berasal dari jawa timur plus atraksinya yang ‘mungkin’ lebih seru…tapi yang jd masalah adalah pelestarian seni dan budaya lokal yang lainnya..apakah kita hanya bisa menyaksikannya setahun sekali ketika ada festival seni?? padahal salah satu cara untuk lebih mempopulerkan sesuatu adalah dgn sering menampilkannya di muka umum/publik, so…???
September 10th, 2007 at 3:55 am
Ronald Daniar
Kelihatannya sekarang adalah jaman atau era teknologi dimana banyak generasi muda lebih peduli tentang teknologi daripada budaya. Jadi pelestarian budaya memang perlu disikapi dengan cermat lagi.
September 29th, 2007 at 4:56 pm