Sekolah di Surabaya Diharuskan Berbahasa Jawa
Ada aturan baru yang menakjubkan bagi pada siswa di Surabaya mulai minggu ini. Namanya Sehari Berbahasa Jawa (Java Day) yang dicanangkan Dinas Pendidikan Kota (Dispendik) Surabaya kemarin (14/1). Demikian dilaporkan harian Jawa Pos.
Dalam surat nomor 421.2/0123/436.5.6/2008 tertanggal 14 Januari yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Drs Sahudi MPd dijelaskan sebagai upaya menumbuhkembangkan dan melestarikan budaya Jawa dan penanaman etika sopan santun bagi siswa, sekolah SD/SMP/SMA/SMK negeri dan swasta sekota Surabaya diminta menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi dan interaksi di sekolah sehari dalam seminggu, yaitu setiap hari Senin.
Menurut penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Drs Sahudi MPd. kepada harian Surya, format penerapannya adalah sesama siswa menggunakan bahasa Jawa ngoko, antara siswa dengan guru atau orang yang lebih tua harus menggunakan kromo inggil (bahasa Jawa halus), dan penggunaan bahasa Jawa dalam proses belajar mengajar (PBM) diserahkan ke sekolah masing-masing.
Benar-benar aturan yang menakjubkan. Aturan kedaerahan seperti itu jelas akan menyusahkan para siswa, terutama yang berasal dari luar pulau Jawa. “Kalau program ini dipaksa diterapkan, jelas akan menimbulkan masalah. Terutama bagi mereka yang tidak bisa berbahasa Jawa,” kritik Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Ahmad Jabir seperti dikutip Surya.
Rasanya aturan seperti itu memang tidak pantas untuk diterapkan di zaman sekarang. Kenapa? Kita harusnya ingat kalau bangsa Indonesia memiliki bahasa persatuan, bahasa nasional, yaitu Bahasa Indonesia. Harusnya kita lebih mempertebal rasa persatuan dengan lebih meningkatkan penggunaan Bahasa Indonesia, bukannya malah memaksakan budaya dan bahasa daerah dengan aturan seperti itu di sekolah-sekolah.
Mengenalkan budaya dan bahasa daerah tidak salah, namun perlu diketahui saat ini saja masih banyak yang kurang menguasai penggunaan “Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar”. Bahkan bahasa yang digunakan di sebagian media elektronik dan cetak saja seringkali masih kacau-balau. Harusnya justru pelajaran Bahasa Indonesia yang lebih diperluas materi dan cara pengajarannya. Harusnya aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang diterapkan di sekolah-sekolah, bukannya malah bahasa daerah.
Apalagi sekolah adalah tempat berkumpulnya anak-anak dari berbagai etnis, suku, agama, dan budaya untuk mendapat pendidikan agar menjadi manusia Indonesia yang berwawasan luas. Jika tetap saja memaksakan penggunaan bahasa daerah seperti itu, bisa saja malah akan menghasilkan siswa-siswi dengan semangat kedaerahan yang sempit.
Apa jadinya kalau nantinya tiap daerah di Indonesia juga menerapkan aturan serupa, memaksakan bahasa daerah setempat jadi ‘bahasa nasional’ di sekolah?
Jika tujuannya adalah mengenalkan budaya daerah kepada para siswa dan masyarakat setempat, itu adalah tujuan yang baik namun bisa dengan cara lain yang lebih bijaksana. Misalnya dengan menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran tambahan atau ekstra kurikuler. Menyulih suara dari bahasa asing menjadi bahasa daerah juga bisa jadi alternatif yang lebih mudah diterima dan merupakan langkah yang jauh lebih bijaksana. Bagaimana menurut Anda?

Ikuti diskusi Ada 13 komentar untuk artikel ini.
Benny Chandra dot com » Sekolah di Surabaya Diharuskan Berbahasa Jawa
[…] Sekolah di Surabaya Diharuskan Berbahasa Jawa: Satu lagi aturan ‘aneh’ yang dimulai dari Surabaya. “Java Day“? Kenapa tidak “Indonesia Day” saja? » | Bahasa, Refresh | […]
January 16th, 2008 at 2:23 pm
Thomas Arie
Kalau saya tidak salah memahami, di Jogjakarta, bahasa daerah juga masuk dalam lingkup pendidikan. Dalam kontek Sekolah Menengah Atas, katanya bahasa daerah dimasukkan dalam muatan lokal. Tapi tidak sampai ke ada “Java Day” segala…
Lha kalau ternyata malah Bahasa Indonesia sendiri tidak bisa diaplikasikan, lha trus gimana itu?
January 16th, 2008 at 3:26 pm
Benny Chandra
kalau hanya sebatas sebagai mata pelajaran, apalagi mata pelajaran pilihan, masih bisa dimaklumi. tapi kalau sampai urusan belajar mengajar juga dan bahkan di luar kelas harus berbahasa daerah, itu yang berlebihan.
January 16th, 2008 at 3:45 pm
roebijanto
Setuju bangeeett!!!aku yang merantau kadang rindu bangetngomong suroboyoan.Ini kebijakan yang harus didukung.Jakarta aja bisa bangga dengan logat betawinya kok.Yang aneh justru JTV dulu gaya bahasanya 100% suroboyoan(Pojok Kampung)tapi 3 tahun terakhir banyak kata yang direkayasa.Itu bukan bahasa suroboyaon.Kenapa?takut dikritik kasar atau super jorok?itu kebanggaan kita kok kenapa harus ditutupi dg bahasa daerah lain.Yok opo cak kok karo bahasane dewe isin!!!wis gak main blas peno iku!!!!!!
January 16th, 2008 at 5:31 pm
alfaroby
aku pikir bahasa indonesia adalah bahasa persatuan, bahasa nasional. sedangkan bahasa jawa adalah bahasa daerah tertentu.
penggunaan bahasa daerah di dalam lingkup sekoah kalau hanya sebatas pelajaran aku pikir OK saja. tapi kalau sampai dengan berbahasa daerah (java day) kayaknya mending gak usah deh, kok kayaknya maksa kali sih pemerintah surabaya nih.
mending ada ekstrakulikuler mengenai adat jawa, mengenai tari tarian dan lagu lagu adat. itu kayaknya lebi masuk deh
January 19th, 2008 at 12:57 pm
Ronald Daniar
Pekerjaan saya sehari-hari di sekolah. Yang mengenaskan sesungguhnya adalah bangsa Indonesia sekarang ini mengalami krisis budaya. Kebudayaan lokal tiap daeah sudah mulai pudar. Dengan alasan demikian, Dinas Pendidikan berusaha membuat kebudayaan daerah ini tidak “mati” dengan cara memperkenalkan kepada anak-anak sejak dini.
Akan tetapi dalam kenyataan diluar, bahasa Jawa hanya digunakan sebagian masyarakat saja yang notabene adalah berasal dari keturunan suku Jawa. Nah, bagaimana dengan mereka yang berasal dari Flores, Irian, Ambon, Batak, Bugis, Madura, dan daerah yang lain?
Sebagai masukan, kenyataannya para orangtua berlomba-lomba untuk memasukkan anak-anak mereka dalam kursus bahasa Inggris, Mandarin atau Jepang. Hal ini dikarenakan oleh tuntutan kerja nanti jika mereka sudah besar. Tidak ada persyratan kerja untuk bisa berbahasa Jawa; yang ada hanyalah bahasa Inggris, Mandarin atau Jepang.
Tujuan Dinas Pendidikan untuk meremajakan budaya daerah sudah merupakan usaha yang bagus akan tetapi harus diiringi dengan pengalaman nyata yang akan dialami para murid nantinya ketika mereka masuk ke dunia kerja.
Ini adalah memang tugas yang sangat berat dari pemerintah untuk menjaga agar budaya daerah tidak musnah mengingat masyrakat kita yang sangat majemuk dan beragam.
Mungkin yang bisa dilakukan adalah meningkatkan keberadaan forum budaya daerah seperti adanya pertemuan para keluarga Bugis di Surabaya, yang diharapkan dapat menjaga agar budaya mereka tidak pudar. Jadi intinya adalah meningkatkan kesadaran masing-masing orang untuk menjaga kebudayaan suku keturunannya dengan tetap menghargai budaya daerah yang lain.
Bahasa Jawa bukanlah satu-satunya bahasa daerah di Indonesia dan tidaklah adil jika Dinas Pendidikan hanya berpihak pada satu budaya saja karena itu akan berarti mematikan budaya daerah yang lain.
January 20th, 2008 at 8:11 am
jovcovrazt
kalo aku sih setuju aja karena melestarikan salah satu budaya bahasa daerah kan cuma 1 hari atau sehari sedang utk bahasa indonesia masih ada 6 hari, ntar kalo di rebut atau di akui negara MALINGSIA baru kebakaran jenggot atau yg lebih jauh lagi SURINAME yg notabene pake bahasa JAWA bahasa nasionalnya,la wong di ajak melestarikan budaya kok ngak mau opo mentang2 la modern yo hidup di abad komputer he he he he
January 25th, 2008 at 4:13 pm
Mulyadi
Mengamati berbahasa sebagai alat komunikasi sehari-hari kepada relasi memang unik dan menarik. Perlu kiranya penempatan dan penggunaan berbahasa dalam komunikasi, misalnya saja lawan bicara orang lebih tua maka bahasa yang digunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa kromo inggil. Disekolah kami Bahasa Jawa sebagai muatan lokal Bahasa Daerah. Kami sangat respon dan mendukung selaki “Java Day” dilingkungan Pendidkan Kota Surabaya karena bukti implementasi siswa mempelajari bahasa Jawa, bahasa Jawa perlu dilestarikan karena aset budaya bangsa dan pas sekali karena kami berada di Pulau Jawa walaupun tidak menutup kemungkinan bahasa daerah lain kita pelajari, misal bahasa Madura,Inggris dsb.Yang sangat menarik bahwa bahasa Jawa sepengetahuan saya dikelompokkan menjadi tiga yaitu bahasa jawa kromo inggil, kromo madya dan ngoko. Sedangkan pemakaian bahasanya ada tata aturannya, misal lawan bicara adalah orang tua maka yang digunakan komunikasi adalah kromo inggil.Bahasa Jawa ini ada implikasinya dengan menghargai orang lain, etika sopan santun, tata krama, rendah hati,dan jujur.
January 28th, 2008 at 11:15 am
Lili
Saya bukan orang Jawa. Saya keturunan Cina, walaupun ada sedikit darah Jawa. Saya tidak terlalu bisa ngomong Jawa. Tetapi kalau ada orang bicara bahasa Jawa (walaupun Jawa halus, saya ngerti.
Saya guru. Guru Biologi dan saya sungguh menaruh minat tinggi pada kekayaan Indonesia, baik itu Biodiversity, maupun budayanya, karena itu menurut saya patut dipelajari. Saya pernah membaca di majalah tentang kekayaan bahasa yang dimiliki Indonesia. Sekarang ini semuanya terancam kepunahan, karena intensitas penggunaannya sangat menurun. Membaca itu semua, saya sungguh sangat prihatin.
Menurut saya, masuk akal bila Dinas Pendidikan “Setempat” (bukan Nasional Lho !), mengambil kebijakan itu. Saya tahu, bahwa akan banyak orang tua siswa dan siswa saya yang bakalan “murang-muring” dengan kebijakan tersebut. Tetapi dari sarasehan bahasa Jawa yang saya ikuti kemarin dikatakan adalah “YANG PENTING ADALAH NIAT BAIK KITA” untuk melestarikan bahasa Jawa. (Tadinya saya pikir, dikelaspun HARUSSSS!!!! bahasa Jawa, ternyata bukan itu maksudnya).
Mengetahui betapa baik dan luhurnya maksud dari kebijakan tersebut, maka SAYA SANGAT MENDUKUNGNYA. Saya sendiri akan belajar (walaupun PELAN-PELAN, mboten nopo-nopo). Yang penting, sekali lagi, NIATNYA dan kreatifitas sekolah untuk mengupayakan kelestarian bahasa dan budaya JAWA.
Itu pendapat saya pribadi lho………
January 29th, 2008 at 3:29 pm
Ardie
Bahasa membawa serta aplikasi perilaku budaya. Dari yang saya ketahui, aturan yang dipaksakan juga merupakan usaha akhir karena budaya Jawa sudah mulai pudar. Berdasarkan tata bahasa yang sedikit saya ketahui, bahasa Jawa memberikan pengaruh terhadap perilaku, etika dan tata krama dalam kehidupan manusia. contoh:
Dog eat, My Father eat.
Anjing makan, Ibu sedang makan.
Asu mangan, Bapak dhahar, adik nedha.
Dan banyak lagi contoh lainnya.
Apakah tidak sayang kalau kita nantinya akan belajar bahasa Jawa dari orang asing (luar negeri)? Sudah banyak hasil kebudayaan kita yang tidak kita ketahui keasliannya, banyak sekali lebih-lebih ketika kita ingin mengenal manuscript kuno asli Nusantara harus ke museum di negara manca.
Semoga uraian ini dapat menjadi wacana dari orang awam seperti saya yang hidup, makan, tidur di Tanah Jawa ini. Kita tinggal meneruskan saja, kenapa tidak kita lakukan?
Mekaten ingkang saged kula aturaken, bilih kathah kirang pana ing reh mapanaken subasita miwah olahing basa, kula nyuwun pangaksama. Nuwun.
February 5th, 2008 at 6:36 pm
RiEn...
Q se setuju-setuju ae…..
karena bahasa jawa sekarang sudah hampir punah boo…
tanda-tanda kehidupannya sudah menipis…
perlu bantuan oksigen dan alat pacu jantung seperti alm pak harto kemaren untuk tetap hidup….
jadi kebijakan pemerintah ttg hari bahasa jawa seharusnya patut diacungin jempol…
walaupun memang akan menimbulkan privatisasi bahasa jawa setempat, paling ga biar QT tu, arek suroboyo dapat tempat di mata masyarakat….
iki lo arek suroboyo,,,…
dari gaya bicaranya aja uda bisa mencerminkan…
karena sekarang ini, kebanyakan anak-anak surabaya banyak yang sudah menirukan dialek jakartaan..
yang katanya lebiah gaul…
nyatanya…
ga ada apa2nya…
gaulan …” Jancox…’” nya suroboyo…
key…
so for BONEKMANIA….
Be YoUr SelF GuYs…
February 19th, 2008 at 2:11 pm
Taufan
Saya sangat setuju dengan program ini. Makna yang saya tangkap adalah agar filosofi “nJawani” terutama bagi orang Jawa, keberadaannya harus terus ada bahkan dipertahankan bahkan sejak generasi muda. Jika tidak dilakukan, budaya Jawa benar adanya akan kian punah.
Harapan saya di daerah lainnya seperti Jogja & Solo, sebagai pusat kebudayaan Jawa semestinya memberlakukan hal yang serupa.
March 5th, 2008 at 9:34 pm
surya
saya sangat setuju,karena kita ini orang surabaya,jadinya ya…jowo rek,kita lihat jakarta,dia aja bangga memperlihatkan bahasa betawinya kepada masyarakat setempat,saya berharap semoga masyarakat setuju dengan peraturan yang berlaku ini.wong cuma one day dalm seminggu aja masak gak bisa sih,walaupun dalm pekerjaan banyak mementingkan bahasa asing,tapi kita sebagai orang indonesia terutama orang surabaya harus bangga dong dengan daerah kita.apa kita malu berbahasa jawa,maunya berbahasa asing ato bahasa jakarta biar lebih gaul gitu!!!ya gak AREK-AREK SUROBOYO!!
March 17th, 2008 at 1:33 pm