Jalur KA Layang Gerbangkertosusila Akan Dibangun
Sebuah upaya terobosan konstruktif dilakukan oleh Departemen Perhubungan bekerjasama dengan Societe Nationale des Chemins de fer Francais (SNCF), perusahaan KA Prancis, dengan membangun jaringan kereta api layang (elevated railways) di jalur Gerbangkertosusila (Gersik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya- Sidoarjo-Lamongan). Proyek yang akan direalisasi pada 2009 itu dibagi dalam dua tahap dengan biaya total Rp 17,3 triliun dalam rangka memecah kemacetan didaerah tersebut.
Seperti dikutip dari berita Harian Surya online , Pemerintah Prancis membantu proyek ini lewat dana hibah 2 juta dolar AS,” ungkap Michel Antrigue, Advisor for Indonesia dari SNC, didampingi Sugeng Saleh, Project Coordinator, usai penandatanganan MoU antara Menhub dengan Gubernur Jatim di Stasiun Gubeng, Selasa (5/8).
Menhub Yusman Syafii Djalil mengatakan, pembangunan jaringan itu paling cepat bisa selesai dalam kurun waktu 15 tahun. Untuk tahap pertama, jaringan KA dibuat sepanjang 42 km membentang di jalur Kandangan, Surabaya, Waru, Sidoarjo. Investasinya sekitar Rp 4,1 triliun. Sedangkan investasi tahap kedua lebih besar, sekitar Rp 13,2 triliun untuk pembangunan jaringan KA sepanjang Tarik, Mojokerto, hingga Lamongan.
Investasi tersebut mencakup pembangunan jembatan layang KA berikut double track serta beberapa stasiun pemberhentian sementara (shelter).
“Namun, pendanaan tidak murni melalui APBN/APBD, kami juga libatkan pihak swasta atau investor. Tapi, sementara ini belum ada investor yang menawar. Segera setelah pembuatan DED (detail engineering design) selesai kami akan tenderkan proyek itu,” timpalnya.
Konsultan pembangunan jaringan KA layang dari pihak ITS Indrasurya B Mochtar menambahkan, perluasan jalur KA menempati track KA yang sudah ada selama ini. “Tidak bikin jalur baru, karena bisa menyulitkan. Tinggi jembatan layang KA dari permukaan tanah estimasinya sekitar lima meter, lebar jalan layang untuk double track sekitar 20 meter,” katanya saat melakukan simulasi animasi elevated railways.
Dirut PT KA Ronny Wahyudi mengatakan, penambahan jaringan angkutan masal KA layang solusi tepat untuk memecah kemacetan di jalur padat. “Langkah ini juga untuk menghemat BBM. Di Jakarta, arus penumpang KA per hari terus merangkak naik. Tahun lalu sekitar 500.000/hari sekarang sudah menjadi 700.000. Kalau tidak diimbangi dengan penambahan jaringan KA yang ada ya kemacetan,” jelasnya.
Asisten II (Bidang Ekonomi Pembangunan) Sekda Provinsi Jatim Ir Chairul Djaelani mengatakan, kerugian secara ekonomi akibat kemacetan di jalur darat Gerbangkertosusila mencapai Rp 1 triliun/tahun. Per hari ada sekitar 260.000 kendaraan melintas di jalur utara-selatan.
Pertumbuhan kendaraan roda empat sendiri mencapai 9 persen per tahun, ditambah pertumbuhan kendaraan roda dua 23 persen per tahun. Ironisnya pertambahan badan jalan per tahun hanya sekitar 2,5 persen.
“Kemacetan telah menyumbat urat nadi perekonomian. Seharusnya juga ada regulasi yang tegas untuk mereduksi pertambahan kendaraan pribadi, selain pemerintah juga menambah transportasi massal sekaligus membangun jaringannya,” pungkasnya

Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
Ronald Daniar
Pembangunan kereta api layang sangatlah tepat di Indonesia karena jalur kereta biasa sering menimbulkan masalah kecelakaan lalu lintas dan pencurian bagian rel.
August 15th, 2008 at 8:16 am