Warga Tionghoa Rayakan Peh Cun
Tanggal 5 bulan 5 dalam kalender China (Imlek), etnis Tionghoa di seluruh dunia merayakan Peh Cun. Kali ini bertepatan pada hari Selasa (19/06/2007), warga etnis Tionghoa di Yogyakarta tak ketinggalan merayakan tradisi nenek moyangnya sejak ratusan tahun lalu. Seperti beberapa tahun terakhir, perayaan Peh Cun di Yogyakarta dipusatkan di Pantai Parangharjo (Parangbolong), Kawasan Parangtritis, Bantul.

Rangkai perayaan dimulai sekitar pukul 11.00 dan berlangsung hingga menjelang sore hari. Diawali dengan ritual keagamaan, pembacaan doa-doa dipimpin oleh Suhu Lau yang diikuti beberapa pemimpin ritual lainnya yang berjubah serba kuning.
Dalam perhitungan astronomi China kuno, perayaan Peh Cun bertepatan saat posisi matahari di puncak kulminasi, memancarkan cahaya paling keras. Ada mitos unik dalam Peh Cun, saat tengah hari pukul 11.00 hingga 13.00, kita bisa mendirikan telur (mentah) di atas permukaan datar. Pada Peh Cun tahun depan silahkan mencobanya.
Perayaan Peh Cun di Yogya berbeda dengan daerah lain ataupun negeri asalnya, tanpa lomba perahu naga (Dragon Boat Festival). Selain itu, Peh Cun justru dipadukan dengan tradisi Jawa, yakni pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan YME, dalam kesempatan ini dilakukan oleh orang nomor satu di Yogya, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Mengakhiri rangkaian perayaan, digelar pertunjukan Liong dan Barongsai serta Layang-layang Naga. Pertunjukan ini cukup menghibur penonton, tidak hanya bagi etnis Tionghoa yang hadir, juga warga sekitar dan wisatawan umum. Mereka memberikan aplaus, bergembira bersama dan berbaur tanpa memandang warna kulit, etnis dan perbedaan mendasar lainnya.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.