Upacara Adat Kupatan Jalasutra
Kupat atau ketupat berukuran besar dibungkus daun gebang dan hidangan gudeg manggar ciri khas Upacara adat tradisional Kupatan Jalasutra (Jolosutro). Tradisi ini secara turun-temurun dilestarikan oleh warga Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul.
Upacara Kupatan Jalasutro ini digelar untuk mengenang Sunan Geseng. Menurut legenda masyarakat setempat, Cokrojoyo atau Sunan Gesang mengikuti sayembara untuk menangkap ikan bersisik emas. Dia mengajukan syarat agar disediakan benang sutra untuk membuat jala. Akhirnya ikan tersebut bisa ditangkap dan dusun dimana jala itu dibuat selanjutnya dinamakan Jalasutra.

Hari Senin, (27/8/2007) yang lalu warga desa Srimulyo menggelar upacara adat ini. Ratusan warga memadati lapangan Jalasutra. Beberapa jodhang atau usungan yang berisi makanan dan hasil bumi dari dusun sekitar berkumpul di lapangan itu. Selanjutnya dilakukan pemotongan ketupat berukuran besar oleh Kepala Desa dan pejabat setempat.
Kemudian jodhang diarak menuju ke Makam Sunan Geseng. Iring-iringan ini dimeriahkan dengan berbagai kesenian tradisional. Sesampainya di pelataran makam, sesepuh desa membacakan doa bagi Sunan Geseng dan memohon kepada Tuhan YME agar warga setempat diberi keselamatan dan limpahan rejeki. Dilanjutkan dengan kenduri, makan bersama. Sebagai acara penutup, isi jodhang dirayah (diperebutkan) masyarakat yang menghadiri upacara ini.
Informasi rinci tentang Upacara Adat Kupatan Jalasutra silahkan kunjungi situs web Dinas Kebudayaan DIY.

Ikuti diskusi Ada 6 komentar untuk artikel ini.
feby
melestarikan budaya memang merupakan hal yang sangat diperlukan pada saat ini dimana pengaruh budaya barat telah mendominasi pikiran generasi muda, tetapi apakah dengan alasan `nguri-uri` budaya jawa kita patut `menurunkan` kadar keimanan kita (khususnya bagi yang beragama Islam)dengan melakukan hal tsb?(memohon keselamatan kepada Tuhan dengan `lantaran` sesajaen dan dilakukan ditempat tertentu). Saya sih setuju saja dengan slogan `nguri-uri` budaya jawa, tetapi mbokya dilakukan dengan hal yang sewajarnya saja….mohon maaf kpd pihak2 yang tdk sependapat dengan saya, tetapi boleh dong kita berbeda pendapat….
October 7th, 2007 at 11:55 am
dean_smart
melestarilan budaya itu penting bgt.
December 14th, 2007 at 5:24 pm
piyut
Wah…jadi kangen banget ma kampung. Aku lahir di dusun Jasem, dusun yang ada disebelahnya Jolosutro. Sudah lama kali gak ikutan acara ini, klo orang2 disana nyebutnya “nyadranan”. Terakhir kalai ikutan waktu smp, jalan kakai nyeker (tanpa alas) ke makam sunan geseng sambil bawa duit 500 perak buat beli jadah dan tempe bacem….hehehe..Kebetulan bokap bawa tukang yang rumahnya di jolosutro, aku tanya jalan menuju makan sunan geseng sudah di aspal atau belum, ternyata masih sama, masih susah di lalui motor or mobil. Semoga aja agustus taun ini ada waktu buat ikutan kupatan/nyadranan.
February 21st, 2008 at 11:02 am
Wisanggeni
Di Kota Kediri ada makam Sunan Geseng, yang sekarang banyak di kunjungi orang untuk berziarah.
Dari kisah Kupatan jalasutra mengenai Sunan Geseng, makamnya ada di Bantul Yogyakarta.
Bisakah anda memberi keterangan karena dipercaya ada dua Makam Sunan Geseng.
Terima kasih
April 2nd, 2008 at 1:31 am
Arum
banyak versi ya tentang Sunan Geseng? terutama makamnya. Ada yg bilang di Kediri ada yg bilang di Bantul.
Klo menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Geseng asalnya Dari Daerah Bagelen,Purworejo (kampung gw).kayaknya lbh masuk akal klo makamnya di Bantul, secara deket dgn Bagelen, Purworejo gitu lho :p.
knapa juga ya gw ngomong kayak gini.gara2 gw pgn tracking from where I belong, neh….
July 18th, 2008 at 12:40 pm
WISANGGENI
Bos, di tempat kami berdiri bangsal sunan geseng. namun tiap kali sadranan, tidak ada upacara khas yang terkait dengan sunan geseng itu sendiri. adakah upacara adat yang bisa diadopsi masyarakat kami????????
September 3rd, 2008 at 10:44 am