You're here: My City Blogging » Yogyakarta » Article: Minimnya Toilet Umum sebagai Fasilitas Publik di Malioboro
“Jangan kebelet di Malioboro!”. Mungkin kalimat ini bisa menjadi salah satu nasihat bagi mereka, yang menjadikan Malioboro sebagai salah satu tempat untuk menikmati suasana Yogyakarta di malam hari. Mengapa? Karena sangatlah sulit untuk mencari toilet umum. Seringkali saya merasa kerepotan jika tiba-tiba ada kebutuhan untuk sekadar buang air kecil. Dan, dari cerita beberapa teman, sepertinya banyak juga yang mengalami keluhan yang sama.
Malioboro memang menjadi salah satu pusat pariwisata di Yogyakarta. Entah sekadar untuk berjalan-jalan, atau menikmati suasana di malam hari. Gudeg lesehan di sepanjang Jalan Malioboro, warung angkringan Pak Man disebelah utara Stasiun Tugu Yogyakarta sudah sangat menjadi identik dengan kawasan Yogyakarta, lebih tepatnya Malioboro.
Anda bisa membayangkan, suasana santai ketika menikmati suasana santai di kawasan Malioboro harus terganggu dengan kebutuhan buang air kecil, yang mungkin cukup susah untuk ditunda. Salah satu harapan adalah toilet umum (yang seharusnya) mudah ditemukan di Malioboro.
Kalau pusat perbelanjaan masih buka, mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Tapi kalau sudah melewati jam 9 malam, perburuan mencari toilet umum bisa menjadi kegiatan yang tidak menyenangkan. Di sepanjang jalan Malioboro, saya hanya melihat dua buah toilet umum yang mudah ditemukan.

Saya juga tidak tahu siapa pengelola dari toilet umum tersebut. Dan saya pribadi tidak peduli siapa yang mengelolanya, yang lebih penting adalah bahwa sarana tersebut ada dan dalam kondisi yang layak. Apakah kondisi ini baru saja terjadi? Sepertinya tidak. Satu atau dua tahun yang lalu (mungkin lebih), kondisinya juga sama. Semoga saja pemerintah kota Yogyakarta tidak merasa bahwa ini adalah hal yang tidak perlu dipikirkan. Justru menurut saya sebaliknya, keberadaan sarana umum seperti ini sangat penting.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
XML error: Reserved XML Name at line 2, column 38
Ikuti diskusi Ada 7 komentar untuk artikel ini.
Ben
gimana kalo buka toilet swasta? mungkin bisa jadi bisnis baru :)
September 28th, 2007 at 4:21 pm
Thomas Arie
Saya pribadi, cenderung lebih setuju jika ada pihak swasta yang tertarik untuk menggarap layanan ini. Tapi ada yang mau nggak ya?
September 30th, 2007 at 4:42 am
vetamandra
yang bikin malioboro pesing..
October 1st, 2007 at 3:57 pm
vinzha
Wow perlu di canangkan dalam APBD kali ya………
Khusus untuk pembuatan Wc umum nih……….
Gimana pak gubernur setuju khan !!!!
October 6th, 2007 at 10:24 am
rezakribow
numpang pipis di kantor Gubernur aja. Deket ini .. :-)
November 16th, 2007 at 12:51 pm
miko
memang sudah saatnya (bahkan kita telat deh ) kalo toilet2 umum dimana saja (beliau) berada, menjadi elemen penting penghias wajah kota, kecenderungan keberadaannya justru malah mengganggu wajah kota yang sudah cukup” manis “,kalo memang pemda setempat nggak mampu mengelola, ditender- in juga sah2 saja kok,kaya parkiran juga kan udah banyak yang dikelola swasta dng cukup profesional, aku setuju ma bang ben tuh yg diatas.toh emang dah terbukti kalo yg kelola pihak swasta, hasilnya lebih oke
September 20th, 2008 at 7:20 pm
ohsi
nyantai masih ada banyak pohon,,
kita ini indonesia,,
bukan india,,
jadi klo ktemu pohon kita pipis bukan nari,,
maap sekedar ± bercanda,,
November 28th, 2008 at 11:28 am