← Kembali ke halaman depan

Beberapa Hal Tidak Menyenangkan tentang Bis Kota di Yogyakarta

Saya termasuk salah satu pengguna jasa transportasi publik bis kota di Jogja. Semakin lama, kok ya malah semakin sering menemukan hal-hal yang tidak menyenangkan terkait dengan transportasi di Jogja (terutama bis) ini ya? Saya pikir, ada baiknya juga hal seperti ini diketahui oleh publik. Paling tidak sebagai informasi tentang hal-hal yang perlu diketahui. Lebih baik tahu dulu sebelum terjadi beneran, bukan?

Inilah beberapa hal yang tidak menyenangkan (menyebalkan) tentang bis kota di Jogjakarta. Hal-hal berikut merupakan opini pribadi dan sesuai yang pernah saya alami sendiri.

  • Berubah jalur seenaknya. Ya, sering bisa kota ini mengubah jalur seenaknya. Memang tidak selalu dan tidak semua bis kota melakukan hal ini. Mengapa jalur bis bisa berubah seenaknya? Dari pengamatan saya, keadaan ini terjadi ketika bis kota hanya membawa sedikit penumpang, dan memilih untuk mengambil jarak terpendek ke tujuan akhir (terminal). Alasan yang sama juga terjadi saat meninggalkan terminal dan hanya membawa sedikit penumpang.
  • Pernah kondektur pura-pura lupa memberikan kelebihan ongkos. Jadi, setelah menerima ongkos dari penumpang… kondektur meninggalkan penumpang. Kebanyakan bis kota di Jogja hanya memiliki satu kondektur. Jadi, misal Anda duduk di kursi depan, setelah itu kondektur mungkin akan ke pintu masuk bagian belakang. Tentu saja tidak semua melakukan hal ini, kebanyakan kondektur bis baik kok. Tips: Sebelum Anda turun, datangi saja kondektur, dan minta kembalian. Ingat, ongkos bis kota adalah Rp. 2.000,00. Ongkos ini tidak berlaku untuk bis kota dengan rute Jogja-Bantul atau bis-bis luar kota (misal: Tempel atau Sleman).
  • Menurunkan penumpang tidak ditempatnya. Maksud saya dengan “tidak ditempatnya” ini bukan tentang menurunkan penumpang di halte. Tapi, lebih kepada ‘negosiasi’ antara kondektur dengan penumpang. Misal: penumpang akan turun di lokasi A, kemudian bis kota memutuskan untuk tidak melewati rute yang seharusnya… dan menurut kondektur jarak tidak terlalu jauh, maka Anda akan ditawari untuk turun. Alasannya: karena tidak terlalu jauh.
  • Jika naik jalur bis yang ‘tidak ramai’, maka perjalanan akan cenderung lambat. Tiap jalur bis tidak memiliki jumlah armada yang sama. Jadi untuk jalur bis yang melewati daerah yang cenderung sepi penumpang, sering kali bis terlalu banyak berhenti. Karena jarak bis satu dengan yang lain juga cukup lama, bersiaplah untuk menunggu. Pernah juga kok, bis kota jadi berhenti lama karena sopirnya makan dulu di warung.

Itu sekadar cerita berdasarkan pengalaman saya. Saya ceritakan sekadar ingin menceritakan hal-hal negatif saja, tapi (sekali lagi) sekadar memberikan informasi yang mungkin bermanfaat. Saya hanya berharap dari pihak terkait bisa memberikan solusi untuk hal-hal tidak mengenakkan ini. Mending kalau yang mengalami sudah paham tentang kondisi ini. Kalau belum, dan ternyata kesan buruk yang dialami oleh pengguna jasa diceritakan ke masyarakat lain, citra Jogjakarta secara umum juga jadi jelek kan? :)

Ikuti diskusi Ada 18 komentar untuk artikel ini.

  1. yudiwbs

    Yang paling menyulitkan kalau kita adalah pengunjung dari luar kota, jadi pusing karena jalurnya dinamis. Tapi mungkin hikmahnya jadi jalan-jalan keliling kota, karena nyasar :-)

    October 23rd, 2007 at 1:27 am

  2. Vavai

    Ternyata tidak beda mas. Entah itu di Yogya entah itu di Bekasi sama saja kok. Masalahnyapun sama persis dan itu bisa disummary dari pengalaman pribadi :-D.

    October 23rd, 2007 at 3:46 am

  3. veta

    yang jelas jangan naik motor pas di belakang bus, suka berhenti mendadak

    October 23rd, 2007 at 10:25 am

  4. Yan Arief

    Sepuluh tahun lebih, ndak pernah naik bis kota. Tapi masalah perbiskotaan di yogya dari dulu ya.. itu-itu saja.

    October 23rd, 2007 at 12:55 pm

  5. Debs

    udah dibikinin halte.. tp tetep menaikkan dan menurunkan penumpang seenak udele dewe..
    belum lg asap knalpot yg ndak pernah diurusin sm sopir yg seroso pembalap..
    bikin emoh naek bis kota.

    October 24th, 2007 at 11:46 am

  6. yuni

    di tempat tinggalku juga suka kayak gitu tuh. suka berhenti sebelum di tempat tujuan. terus angkot lebih nyebelin, penumpang suka diturunin seenaknya kalo ada penumpang lain yang lebih banyak. njlehi banget!
    tapi demi duit tho yo mas??

    October 24th, 2007 at 4:40 pm

  7. gimbal

    Ternyata setelah hampir 2 tahun saya tidak menetap lagi diJogja, masalah bis2 dalam kota Jogja yang selalu ngebut seenak hatinya tanpa mempedulikan keadaan penumpang didalam bis dan orang lain yang berada diluar bis masih saja saya rasakan. Entah sampai kapan ini terjadi. Kenapa Jogjakarta tidak bisa meniru kota dinegara2 modern yang mempunyai jalur transportasi yang baik dan tertata?

    November 8th, 2007 at 11:48 am

  8. Bheta

    pokoknya bis kota di jogja njelei banget,wis bis’e bosok, kebule akeh, mandek sak nggon-nggon, sing nyopir ra aturan, akeh copet’e. Saya berharap sebagai warga jogja apabila pemda lebih serius dalam mengatur alat transportasi di jogja.

    November 11th, 2007 at 11:42 pm

  9. Saherman

    waduh…. penyakit lama belum sembuh juga nih. Padahal akhir tahun saya mau kembali ke Jogja, mau nostalgia ma istri di sana. Moga-moga segera dapat dibenahi ya…

    November 12th, 2007 at 1:07 pm

  10. SAGA

    MAS KOK RAONO MUSIK DAERAH E DEWE PAYAH SESUK DIKUM PULKE MAS PLEASE TAMPILKAN DONG

    November 14th, 2007 at 6:25 pm

  11. Bus Kota Yogyakarta, Kantornya Para Pencopet? - Catatan Hanging

    […] Beberapa Hal Tidak Menyenangkan tentang Bis Kota di Yogyakarta […]

    November 14th, 2007 at 6:26 pm

  12. SAGA

    CEPET MAS MBAYARElarang tlek

    November 14th, 2007 at 6:27 pm

  13. SAGA

    suwe

    November 14th, 2007 at 6:28 pm

  14. kenz

    Saya setuju, tapi yang lebih mengesalkan itu ulah para pencopet di bus kota Yogyakarta.

    November 14th, 2007 at 6:35 pm

  15. rezakribow

    yang paling ngeselin dari bis di Jogja neh, seringnya mereka nyalip. Ga motor, mobil disalipin semua. Padahal tu jalan sempit banget loh. Ga tau mo kesel pa kagum juga, bisa nyalip di jalur sesempit itu. :-)

    November 16th, 2007 at 12:39 pm

  16. syafril007

    bus itu ya…copet….trus…lambat…..dan kumuh…tapi mbayarnya mahal……
    wah…pokoknya gak enak banget…tapi sialnya gak ada pilihan….

    November 17th, 2007 at 12:48 am

  17. Thomas Arie

    Soal halte, saya rasa ini juga rumit juga. Disatu sisi, penumpang sendiri mungkin punya alasan kenapa tidak menunggu di halte. Mungkin masalah jarak halte yang terlalu jauh dari tempat berangkat.

    Kalau soal copet, saya pribadi belum pernah mengalami, mungkin karena tampang saya adalah tampang orang tidak punya duit kali ya? Tapi dari beberapa cerita (dan yang pernah saya lihat), sepertinya di daerah-daerah tertentu saja ya yang copet cukup agresif. Misal di deket Malioboro dan Janti(?).

    Memang harus lebih waspada sepertinya. Di kota lain, mungkin kendaraan ini memang salah satu sasaran empuk para pelaku kejahatan kali ya…

    November 19th, 2007 at 1:03 am

  18. langit biru

    nambah satu lagi hal negatifnya : ngebut sembarangan tanpa peduli pengendara lainnya.

    http://venesiamail.blogspot.com/2007/11/ngebut-seenaknya-hasilnya.html

    November 21st, 2007 at 12:08 pm

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)