You're here: My City Blogging » Yogyakarta » Article: Andong, Transportasi Wisata di Yogyakarta yang Masih Tersisa
Saya lupa tepatnya terakhir kali naik andong. Kalau tidak salah, mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Wah, ternyata sudah lama sekali. Dulu, naik andong menempuh rute dari Kebun Binatang Gembira Loka sampai rumah. Sudah lupa juga soal tarifnya. Yang pasti, saya lagi sadar, ternyata jauh juga rutenya…

Yang saya heran (sekaligus takjub) adalah sampai sekarang andong masih mampu hadir untuk memberi sentuhan tersendiri sebagai salah satu kekhasan kota Yogyakarta. Diantara hiruk pikuk dan pesatnya perkembangan kota, ternyata andongpun masih relatif mudah untuk ditemukan. Walaupun, jika dilihat sepintas, tidak banyak andong yang terlihat. Tapi, dimana dulu kita melihat dan mencarinya.
Dari yang saya amati, andong saat ini hanya mengambil rute-rute tertentu. Dan kebanyakan melalui rute yang berpotensi mendapatkan banyak penumpang. Misalnya, dari arah daerah Kotagede menuju Pasar Beringharjo (daerah Malioboro) dan sebaliknya. Penumpangnya juga sudah semakin spesifik. Ibu-ibu penjual sayur dan barang jualan di pasar cenderung banyak memilih andong sebagai alternatif transportasi. Mungkin salah satu pertimbangan antara lain karena andong ‘lebih bisa muat banyak’? Atau, apakah karena bagi mereka, bis dirasa kurang nyaman? Bisa jadi. Lalu, dimanakah kita bisa menemukan andong dengan mudah? Bagaimana persebaran lokasi parkir andong di Yogyakarta? Beberapa tempat dari pengamatan saya:

Sebagai salah satu warga Yogyakarta, saya memiliki sebuah harapan supaya andong terus dijaga keberadaannya. Mungkin ‘tingkat potensi gangguan’ yang diakibatkan oleh andong tidak (atau belum) seperti becak. Memang ada rencana untuk penertiban becak di Yogyakarta dalam hal penataan pariwisata, dan semoga ini juga memberi dampak yang positif. Ah, jadi pengen naik andong!
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
XML error: Reserved XML Name at line 2, column 38
Ikuti diskusi Ada 4 komentar untuk artikel ini.
vetamandra
murah lo, 2000 dari jambidan sampe terminal, udah gitu jalannya nyante, silir
November 21st, 2007 at 4:10 pm
tamu
Bau tahi kudanya itu lho, mbok andhong itu jangan di kota, pindah ke desa yg berbukit-bukit. di kota becak sama sepeda saja.
December 6th, 2007 at 2:21 pm
antok
saya salut terhadap keberadaan andong di Yogyakarta. andong merupakan salah satu asset sebagai salah satu daya tarik wisata yang keberadaanya perlu tetap dipertahankan. Dan berbicara tentang kotoran kuda sebetulnya bisa aja dibikin suatu peraturan yang bijak mengatur ttg hal itu ( kotoran Kuda ) toh saya yakin para pemilik andong ada wahana dimana mereka saling kumpul, disanalah tempat membicarakanya. tapi tentunya dgn ada yang memfasilitasi, siapa ? dinas priwisatakah? dinas kebersihan kota? dinas perhubungan ? ya mungkin semua pihak yang terkait. saya yakin dengan koordinasi semua masalah bisa teratasi. cuma maukah?
May 16th, 2008 at 10:50 am
mustang
Sebagai daerah pariwisata andong kendaraan tradisional tetap harus dipertahankan gitu.
June 24th, 2009 at 11:35 am