Tradisi Jodhangan di Gua Cerme
Pelataran Gua Cerme, Minggu pagi (16/12/2007) tampak semarak, warga setempat dan pengunjung dari Yogyakarta dan sekitarnya berduyun-duyun menuju ke tempat yang konon kabarnya, jaman dahulu sebagai tempat pertemuan para Wali. Warga sekitar Gua Cereme yang berada di Pedukuhan Srunggo I dan Srunggo II, Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul menggelar hajatan yakni Merti Dusun (Bersih Desa) dan Jodhangan.

Upacara adat tradisional ini digelar setiap tahunnya bertepatan dengan hari Ahad Pahing bulan Besar dalam Kalender Jawa. Konon kabarnya tradisi ini secara turun temurun dan hingga kini warisan budaya ini tak lekang dimakan jaman.
Prosesi ritual diawali dengan pelepasan kirab 18 Jodhang di Balai Desa Selopamioro yang berjarak sekitar 1 km dari Gua Cerme. Jodhang tersebut berasal dari seluruh RT di Pedukuhan Srunggo I dan II yang masing-masing membawa satu Jodhang. Para pembawa Jodhang harus berfisik prima karena harus mengangkat usungannya menuju ke Gua Cerme yang terletak di atas perbukitan.
Sesampainya di pelataran Gua Cerme, para pembawa Jodhang dengan nafas masih terengah-engah setelah meniti ratusan anak tangga, mereka membuka Jodhang yang berisi nasi gurih, ingkung (daging ayam utuh), buah-buahan, sayuran dan makanan jajan pasar. Kemudian ditata di depan para tamu sebagai uba-rampe acara.
Menjelang penghujung acara, Pak Kaum (rois) setempat memanjatkan doa dan bersyukur atas limpahan berkah dan rejeki. Serta agar diberikan keselematan dan berkah di kemudian hari. Selain itu, ada juga beberapa warga yang secara khusus memberikan uba-rampe lebih sebagai ungkapan syukur setelah sembuh dari sakit.
Akhirnya, upacara ditutup dengan kenduri atau makan bersama, seluruh pengujung menyantap nasi gurih lengkap dengan lauk pauknya seperti daging ayam, tempe, kedelai goreng, dan kerupuk. Tua - muda, laki - perempuan berkumpul bersama dalam suasana kekeluargaan.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.