← Kembali ke halaman depan

Kirab Budaya “Ngarak Siwur” di Imogiri

Masyarakat di Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta memiliki agenda wisata budaya menarik yang digelar setiap tahun yakni Kirab Budaya “Ngarak Siwur”. Mengarak 2 buah siwur atau gayung air yang akan digunakan untuk ritual “Nguras Kong/Enceh” di Kompleks Makam Raja-raja Mataram (Yogyakarta dan Surakarta) Pajimatan, Imogiri yang akan diselenggarakan pada keesokan harinya.

kirab-budaya-imogiri-2008-1

Dalam kalender Jawa, upacara tradisional Kirab Budaya “Ngarak Siwur” ini setiap tahunnya digelar bertepatan pada hari Kamis Wage bulan Suro. Tahun ini tradisi Kirab Budaya Imogiri merupakan penyelenggaraan kali ke-9, dilangsungkan hari ini, Kamis (17/01/2008). Sedangkan “Nguras Kong/Enceh” diselenggarakan Jumat pagi (18/01/2008) atau bertepatan dengan Jumat Kliwon.

Sekitar pukul 14.00 WIB, dilakukan upacara pembukaan, para perserta kirab berbaris rapi dengan mengenakan busana tradisional Jawa. Ada ada sekelompok bregodo (pasukan) beratribut “lombok abang” meniru pakaian khas prajurit kraton Yogya. Upacara pembukaan meliputi sambutan dari pejabat dan sesepuh setempat, serta pertunjukan tari tradisional.

Selanjutnya, secara simbolis dengan mengangkat gunungan wayang kulit, camat setempat dan pejabat dari Kabupaten Bantul melepas peserta kirab. Diurutan terdepan yakni pembawa 2 dwaja atau panji-panji Kirab Budaya Imogiri, salah satunya ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

kirab-budaya-imogiri-2008-2

Peserta lainnya yakni bregodo abdi dalem Surakarta dan bregodo abdi dalem Ngayogyakarta yang masing-masing diawali oleh pembawa tandu untuk membawa siwur. Kirab ini juga diikuti oleh bregodo seni keprajuritan “Puspita Sari”, pembawa gunungan tunggal dari Desa Sriharjo, barisan lurah dan perangkat desa se-Kecamatan Imogiri, dan beberapa kelompok masyarakat di Imogiri.

Iring-iringan peserta kirab bergerak ke timur menuju Pendopo Kabupaten Jurukunci Surakarta. Sesampainya di pendopo ini, KPH Suryo Nagoro selaku Bupati Juru Kunci dengan simbolis, mengeluarkan siwur pusaka yang dibalut kain mori putih dari dalam kotak berbalut kain mori putih. Kemudian siwur dimasukkan kembali dalam kotak dan diserahkan kepada abdi dalem Surakarta dan diletakan di dalam tandu yang diusung abdi dalem Surakarta.

Prosesi berikutnya, peserta kirab melanjutkan perjalanan menuju ndalem Kabupaten Purulaya Ngayogyakarta. Di pendopo ini, Bupati Juru Kunci KRT Hastono Nagoro menyerahkan siwur kepada abdi dalem Ngayogyakarta. Berbeda dengan yang dilakukan abdi dalem Surakarta, siwur dikemas dalam kotak kayu berukiran tanpa dibalut mori. Setelah kotak tersebut ditaruh di atas tandu, arak-arakan bergerak ke arah timur menuju tujuan akhir yakni pelataran parkir Makam Pajimatan, Imogiri.

Pada penghujung acara, kedua kotak berisi siwur diserahkan oleh pejabat setempat kepada abdi dalem kemudian disemayamkan di Bangsal Kompleks makam raja-raja Mataram Imogiri. Dilanjutkan dengan doa dan pada akhir rangkaian acara, 2 gunungan berukuran kecil (tak sebesar gunungan Grebeg Kraton) yang dibawa oleh peserta kirab dirayah oleh masyarakat yang memadati pelataran parkir sejak siang hari.

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Our channels and feeds

  • Business Channel (7 blogs)
  • City Channel (26 blogs)
  • Film Channel (10 blogs)
  • Health Channel (6 blogs)
  • Sport Channel (6 blogs)
  • Media Channel (6 blogs)
  • Lifestyle Channel (4 blogs)
  • Hobby Channel (4 blogs)
  • Science Channel (8 blogs)
  • Music Channel (3 blogs)
  • Tech Channel (10 blogs)
  • Tips Channel (4 blogs)
  • Travel Channel (9 blogs)
  • Writing Channel (5 blogs)