Kerak Telor ada juga di Yogyakarta
Ketika mendengar jenis makanan yang namanya Kerak Telor, mungkin kita langsung berpikir tentang Betawi, atau Jakarta. Ya, memang makanan ini identik dengan Betawi. Saya sendiri hanya pernah melihat dari televisi atau membaca koran tentang Kerak Telor ini, belum pernah mencoba. Ya, karena saya belum pernah menjumpai penjual Kerak Telor di Yogyakarta.
Hari Minggu lalu, saya menjumpai pemandangan baru di daerah Jl. Senopati (dekat perempatan Malioboro, ke arah timur). Ada penjual Kerak Telor — yang katanya — asli Betawi. Ah, kebetulan sekali ada yang jual. Itung-itung tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta.
Akhirnya saya coba pesan. Ketika ditanya mau pakai telur apa, karena belum tahu enak telor bebek atau telor ayam untuk dibuat sebagai Kerak Telor, saya serahkan pilihan kepada penjualnya saja. Akhirnya bapak itu memilihkan telor bebek.
Sambil menunggu, dan karena tidak sedang melayani banyak pembeli, saya sempatkan ngobrol dengan beliau. Katanya, beliau dan teman-temannya — wah berarti lebih dari satu penjual! — ini baru mulai jualan di Yogyakarta sekitar dua minggu. Ah, mungkin ini juga dalam rangka perayaan Sekaten yang dimulai 8 Februari 2008 silam kali ya?
Awalnya saya mengira kalau penjualnya juga orang Betawi (atau paling tidak dari Jakarta). Ternyata dugaan saya salah. Penjualnya bilang kalau dia berasal dari Pamulang (eh, atau Lumajang ya? Lupa); yang pasti sih bukan dari ‘tempat yang saya duga’, hehehe…
Setelah menunggu beberapa menit sambil mengamati proses pembuatan, akhirnya pesanan saya siap. Saya dihadapkan kepada makanan berbentuk bulat, tidak terlalu tebal, agak kering, tapi tidak terlalu gosong. Diatasnya, ada berbagai hiasan. Saya tidak tahu pasti apa saja. Silakan lihat di foto yang sempat saya ambil untuk melihat macam hiasannya.
Yang pasti, selain hiasan tersebut, tentu ada beberapa bumbu lain seperti garam dan merica. Nah, mumpung masih hangat, saya coba saja cicipi. Oh ya, saya makan ditempat, sama penjualnya malah dikasih piring dan sendok juga. Tapi akhirnya saya pilih untuk menggunakan alas kertas saja, sambil saya ambil sepotong dengan tangan.
Pada gigitan pertama, saya tidak merasakan sensasi rasa yang luar biasa. Jadi, kurang ada rasa yang menonjol. Tidak begitu gurih, kurang asin juga. Tapi, ketika saya coba makan bersama dengan beberapa pelengkap yang ada di Kerak Telor, rasanya menjadi sedikit lumayan. Sekali lagi, ini Kerak Telor saya yang pertama, jadi jika dibandingkan dengan rasa yang “sesungguhnya”, saya tidak tahu harus bilang apa.
Karena standar rasa “enak” itu juga kadang relatif, untuk Kerak Telor ini, kalau boleh menilai rasa dalam skala 6 (dari 10). Oh ya, saya tidak habiskan Kerak Telor ditempat dan saya minta dibungkus saja, supaya bisa dimakan sambil jalan.
Untuk harga, saya sempat memperkirakan sekitar Rp. 5.000,-. Tapi perkiraan saya salah. Harga yang dibandrol saat itu adalah Rp. 8.000,-. Dan menurut saya, harga tersebut sepertinya sedikit mahal. Entah karena ini sedang ada perayaan Pasar Malam Sekaten atau bukan.




Ikuti diskusi Ada 5 komentar untuk artikel ini.
veta
penjualnya datang ke jogja naik apa ya?
February 29th, 2008 at 8:46 am
Cen2
wah, kerak telornya muahal banget nget nget nget..!!
waktu dateng ke sekaten, tertarik beli juga, tapi ternyata harganya mahal.
kalo telor bebek 9000, kalo telor ayam 8000.
Mungkin kalo boleh ditawar, 3000 rupiah aja sudah dapet tuh… tapi yawis, sekali-sekali nyoba kerak telor Betawi….
March 18th, 2008 at 2:56 pm
harry
harga 8ribu sih maseeh murah kalii…coba beli di Jakartabisa nyampe 16 ribu. tapi buat Jogja sih kemahalan mas…
April 1st, 2008 at 11:11 am
denny
kalo bisa salah satu candinya di pindahkan ke daerah bandung
April 5th, 2008 at 1:46 pm
denny
daerah majalaya
April 5th, 2008 at 1:46 pm