You're here: My City Blogging » Yogyakarta » Article: Tradisi Rebo Pungkasan di Wonokromo, Pleret

Tradisi Rebo Pungkasan di Wonokromo, Pleret

Yan Arief — February 25, 2009 / 2:16 pm

Masyarakat di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta secara turun-temurun setiap tahun menggelar Tradisi Rebo Pungkasaan atau Wekasan yakni Rabu terakhir di bulan Sapar.

Lemper Raksasa Potong Lemper Raksasa

Puncak acara Tradisi Rebo Pungkasaan digelar kirab budaya mengarak lemper berukuran raksasa pada, Selasa (24/02/2009) malam. Acara dimulai dari Masjid Masjid Al Huda, Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo. Atraksi budaya ini menarik perhatian, masyarakat memadati sepanjang rute kirab.

Iring-iringan peserta kirab diikuti oleh barisan prajurit tradisional berseragam hijau. Selanjutnya diikuti oleh sejumlah penunggang kuda yang merupakan pemuka desa setempat. Berikutnya, kereta kuda yang ditumpangi oleh Bupati Bantul Drs HM Idham Samawi beserta Komandan Kodim Bantul. Barisan prajurit anak-anak mengikuti dibelakangnya.

Sedangkan lemper raksaksa berukuran panjang sekitar 2 meter dan berat 1 kuintal dibawa menggunakan mobil pick-up. Dan barisan paling belakang diikuti oleh pembawa gunungan yang berisi aneka buah dan hasil bumi.

Sesampainya di Balai Desa Wonokromo, dilakukan upacara pemotongan lemper raksasa. Dengan menggunakan sebilah pedang, Bupati Bantul Drs HM Idham Samawi membelah lemper raksasa menjadi 2 bagian.

Ternyata didalam lemper raksasa tersebut berisi ratusan lemper kecil. Kemudian lemper-lemper kecil dilempar ke arah pengunjung. Ratusan warga yang berada di halaman Balai Desa saling berebut lemper. Belum puas dengan rebutan lemper, warga selanjutnya berebut gunungan yang berisi buah-buahan, kacang panjang, padi, dan hasil bumi lainnya.

Asal-muasal Tradisi Rebo Pungkasan, masyarakat Wonokromo mendapat musibah (pageblug). Agar terlepas dari penyakit dan marabahaya banyak orang yang memohon pertolongan dari Kyai Muhamad Fakih alias Kyai Welit.

Obat yang diberikan berupa selembar “wifiq” (tulisan arab diatas kertas). Wifiq tersebut dimasukkan ke dalam air tawar untuk diminum atau dipakai untuk mandi.

Karena semakin banyak orang yang meminta, maka wifiq tersebut dimasukkan ke dalam tempuran — pertemuan 2 aliran sungai — sungai Gajah Wong dan Sungai Opak, tepat pada malam Rabu terakhir bulan Sapar 1837.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

Citilink Garuda

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT