You're here: My City Blogging » Yogyakarta » Article: Cembengan, Tradisi Menyambut Musim Giling PG Madukismo
Sepasang tebu manten (pengantin) diarak menggunakan kereta kuda mengelilingi komplek Pabrik Gula (PG) Madukismo, Kasihan, Bantul mewarnai rangkaian tradisi Cembengan, Jumat Sore (24/04/2009). Iring-iringan juga dimeriahkan dengan kelompok kesenian tradisional, pegawai pabrik berpakaian tradisioan dan masyarakat sekitar pabrik.
Sepasang tebu manten tersebut berupa dua ikatan tebu masing-masing berjuluk Kyai Tumpak (pria) dan Nyai Pon (wanita). Tebu-tebu tersebut diambil dari wilayah kerja PG Madukismo yakni DI Yogyakarta meliputi Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulonprogo. Wilayah Jawa Tengah meliput Kebumen, Purworejo, Temanggung, Magelang dan Sragen, serta dari Jawa Timur.
Usai diarak, secara simbolis tebu temanten oleh Kepala Bagian Tanaman Ir. Chapsol Jaskandi kepada Kepala Bagian Pabrikasi Ir. Suharyanto, turut disaksikan oleh Presiden Direktur PT Madubaru (pengelola PG Madukismo) GKR Pembayun. Selanjutnya kedua ikat tebu disemayamkan di atas mesin giling. Saat awal giling pada tanggal 3 Mei 2009 mendatang, sepasang tebu manten digiling pertama kali.
Sesaji lain dalam ritual ini yakni 2 kepala sapi yang dikubur di dekat mesin giling serta sejumlah 40 ingkung (ayam utuh) dan uba-rambpe lainnya untuk sesaji seluruh unit kerja pabrik. Pada penghujung acara dilakukan pembacaan do’a dan tahlil. Sedangkan pada malam harinya dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Direktur PT Madubaru Ir. Rahmad Edi Cahyana, MSi mengatakan, tradisi tebu manten ini dimaknai sebagai simbol kemitraan antara pabrik gula dan petani tebu, masing-masing saling membutuhkan. Wawancara selengkapnya bisa disimak dalam video berikut ini.
Sejarah Cembengan, berasal dari bahasa China “Cin Bing” yang berarti hari ziarah. Pada jaman penjajah Belanda, pekerja pabrik keturunan Tionghoa melakukan ritual ziarah kepada leluhur. Dalam perkembangannya, rangkaian Tradisi Cembengan meliputi ziarah ke makam imogiri, parangkusumo dan tahlilan. Sebagai acara pendukung turut dimeriahkan dengan berbagai lomba, pasar malam, kesenian tradisional dan pagelaran wayang kulit.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
A feed could not be found at http://3gweek.net/feed/
Ikuti diskusi Satu komentar untuk artikel ini.
SATMA SWAGE
MAJULAH JOGJAKU,,JANGAN DICAMPUR ADUKAN DENGAN BUDAYA LAIN APA LAGI DIRUSAK,LESTARIKAN BUDAYA KITA.
June 22nd, 2009 at 12:03 am